Namo Buddhaya,
Minggu, 25 Januari 2015, kegiatan di Metta Vihara Tegal yaitu
Pujabakti Umum mulai pukul 07.30 - 09.30 WIB
Sekolah Minggu Buddha pukul 09.30 - 10.30 WIB
Ulang Tahun Bersama Bulan Januari 09.30 - 11.00 WIB
Pelantikan Patria PC. Kota Tegal 11.00 WIB sampai selesai
dihadiri oleh Bhante Piyadhiro
semoga semua makhluk berbahagia
Jumat, 23 Januari 2015
Rabu, 19 Februari 2014
BRIVI FEBRUARI 2014
Tegal, 24 Februari 2014
No
: 78, Tahun Kedelapan
Penasehat : Upc. Lukman Susilo (Loe Lian Phang)
Gunawan
(Lo Han Kwee)
Pimpinan Redaksi : PMd.
Suriya Dhammo
Redaksi Pelaksana : 1. Upc. Yuningsih Pranoto 4. PMd. Sumedha
Amaravathi
2. Tjutisari 5.
Upc. Kumaro Suyanto
3. Lie Thiam Lan
Alamat Redaksi : Metta
Vihara
Jl. Udang
No. 8 Tegal Telp. (0283) 323570
BCA No
Rek : 0479073688 an. YUNINGSIH ASTUTI - TUSITA
WIJAYA
DHAMMAPADA ATTHAKHATA
Bab III
- Syair 36
Pikiran sangat sulit untuk
dilihat, amat lembut dan halus; pikiran bergerak sesuka hatinya. Orang
bijaksana selalu menjaga pikirannya, seseorang yang menjaga pikirannya akan
berbahagia.

Syair 36
Kisah Seorang Bhikkhu yang Tidak Puas
Ada seorang pemuda anak seorang
bankir bertanya ke-pada seorang bhikkhu yang menghampiri rumahnya untuk
berpindapatta, apakah yang harus dilakukan untuk membebaskan diri dari
penderitaan dalam kehidupan saat ini.
Bhikkhu itu menyarankan untuk
memisahkan tanahnya
dalam tiga bagian. Satu bagian untuk mata
pencahariannya, satu bagian untuk menyokong keluarga, dan satu bagian lagi untuk
berdana.
la melakukan semua petunjuk itu,
kemudian pemuda itu menanyakan lagi apa yang harus dilakukan selanjutnya.
Disarankan lebih lanjut; pertama,
berlindung kepada Tiratana dan melaksanakan lima sila; kedua, melaksanakan
sepuluh sila; dan ketiga, meninggalkan kehidupan keduniawian dan memasuki
Pasamuan Sangha. Pemuda itu menyanggupi semua saran dan ia menjadi seorang
bhikkhu.
Sebagai seorang bhikkhu, ia
mendapat pelajaran Abhidhamma dari seorang guru dan vinaya oleh guru lainnya.
Selama mendapat pelajaran ia merasa bahwa Dhamma itu terlalu berat untuk
dipelajari, dan peraturan vinaya terlalu keras dan terlalu banyak, sehingga
tidak banyak kebebasan, bahkan untuk mengulurkan tangan sekalipun.
Bhikkhu itu berpikir bahwa
mungkin lebih baik untuk kembali pada kehidupan berumah tangga. Karena alasan
ragu-ragu dan tidak puas, ia menjadi tidak bahagia dan menyia-nyiakan
kewajibannya. Dia juga menjadi kurus dan kering.
Ketika Sang Buddha datang dan
mengetahui masalahnya, Beliau berkata, "jika kamu hanya mengawasi
pikiran-mu, kamu tidak akan mempunyai apa-apa lagi yang akan diawasi; jadi
jagalah pikiranmu sendiri."
Kemudian Sang Buddha membabarkan
syair 36 berikut:
Pikiran sangat sulit untuk
dilihat, amat lembut dan halus; pikiran bergerak sesuka hatinya. Orang
bijaksana selalu menjaga pikirannya, seseorang yang menjaga pikirannya akan
berbahagia.
BRIVI JANUARI 2014
Selamat
Tahun
Baru Imlek 2565
31
Januari 2014
&
Hari Raya
Maghapuja 2557
14
Februari 2014
![]() |
KELUARGA BESAR METTA VIHARA
PEMUDA DAN REMAJA METTA VIHARA
Jl. Udang No. 8 Tegal ( (0283) 323570
MAJELIS AGAMA BUDDHA THERAVADA INDONESIA
( MAGABUDHI )
Pengurus Cabang Kota Tegal
Sekretariat : Metta Vihara, Jl. Udang 8 Tegal
WANITA THERAVADA
INDONESIA ( WANDANI )
Pengurus Cabang Kota Tegal
Sekretariat : Metta Vihara, Jl. Udang 8 Tegal
SEKAPUR SIRIH
Buletin Brivi edisi 77 tahun ini memasuki tahun ke delapan , semoga
tujuan dari redaksi untuk menggalang komunikasi dan persaudaraan antar umat
Metta Vihara dapat dicapai sehingga Buddha Dhamma dapat terus menerangi kita
semua . Agar bisa menjalani kehidupan ini dengan baik, sehingga kehadiran buletin
kesayangan kita membawa manfaat bagi kita semua.
Redaksi mengucapkan selamat hari raya Magha 2557 dan selamat tahun baru imlek 2565 , semoga berkah keselamatan ,
kesehatan , kejayaan dan kebahagiaan melimpah pada kita , dengan semangat baru
menggapai impian menjadi nyata.
Hari raya Magha tiap tahun kita peringati bersama . Apa yang kita
peringati terangkum dalam tulisan “ hari raya Magha. “ Dhammapada Atthakhata
dalam “ kisah seorang Bhikkhu tertentu “ menunjukan bahwa pikiran sangat sukar
dikendalikan , dengan pengendalian pikiran akan dapat membawa kebahagiaan.
Artikel asal mula perayaan Imlek dan tradisi aneka makanan dalam
merayakan tahun baru imlek dapat anda ikuti dalam tulisan kali ini. Cerita
Inspiratif “ Cincin keberuntungan “
sangat menarik untuk tidak dilewatkan.
“Ulat dan pohon Mangga “sebuah renungan yang indah untuk kita pahami sehingga
dalam kehidupan sehari-hari dapat menjadi sebagai pedoman hidup kita.
Andri Wongso mengajak kita agar jangan hidup dimasa lalu , karena
semuanya telah lewat dan tak mungkin kembali. Apa yang kita hadapi saat ini
itulah kenyataan hidup. Melangkah dari sekarang untuk menggapai harapan yang
masih belum terjadi . Umat Buddha sangat membutuhkan Bhikkhu tetapi untuk
menjadi Bhikkhu sangat sedikit sekali yang mau , dalam tulisan Bhikkhu
Piyadhiro bertanya Siapa mau menjadi Bhikkhu ? Ajahn Braham dalam buku “ Membuka
Pintu Hati “ menguraikan tentang “
Kemarahan “ . Amarah adalah bagian dari kehidupan kita ini , adakah manfaatnya
simak dalam tulisan ini . Bhikkhu Dhammavudho Mahathera dalam buku “Segenggam
Daun Bodhi” mengulas “ Pentingnya Sutta – Vinaya” Berlindunglah hanya pada
Buddha Dhamma dan Sangha. 100 Tanya Jawab bersama Bhikkhu Uttamo, Subhadevi
bertanya apa beda suatu usaha dengan atau tanpa Doa ? “ Kewajiban Orang tua
terhadap anak “ merupakan tulisan singkat Pandita Dr. Ratna Surya Widya SpKJ dalam “ Setitik Cahaya
di Balik Kabut “..
Redaksi sudah berusaha untuk menampilkan Buletin kesayangan kita semua
BRIVI Metta Vihara agar dapat menampilkan tulisan yang bermanfaat bagi kita
semua , namun kami sadar masih banyak kekurangannya . Karena itu dukungan anda
sangat berarti bagi redaksi . Redaksi tak dapat berbuat banyak tanpa adanya
dukungan dan partisipasi anda semua .
Semoga kehadiran Buletin BRIVI dapat membawa manfaat dan kebahagiaan bagi
kita semua .
Semoga semua makhluk berbahagia
Sadhu Sadhu Sadhu
Redaksi
Selasa, 21 Januari 2014
Sabtu, 14 Desember 2013
BRIVI NOVEMBER 2013
Edisi KATHINA
Tegal, 24 November 2013
No
: 75, Tahun Ketujuh
Penasehat : Ketua Yayasan Metta Jaya ( Loe Lian Phang )
Penanggung Jawab : Ketua
Dayakasabha Metta Vihara Tegal ( Lie
Ing Beng )
Pimpinan Redaksi : Ibu Tjutisari
Redaksi
Pelaksana : 1. Ibu Pranoto 4. Liliyani
2. Suriya Dhammo 5.
Sumedha Amaravathi
3. Ade Kristanto 6. Lie Thiam Lan
Alamat Redaksi : Metta Vihara
Jl. Udang
No. 8 Tegal Telp. (0283) 323570
BCA No Rek : 0479073688 an. YUNINGSIH ASTUTI - TUSITA WIJAYA
DHAMMAPADA ATTHAKHATA
Bab
II - Syair 32
Seorang
bhikkhu yang bergembira dalam kewaspadaan dan melihat bahaya dalam kelengahan
tak akan terperosok lagi, ia sudah berada di ambang pintu nibbana.
BRIVI NOVEMBER 2013
Edisi KATHINA
Tegal, 24 November 2013
No
: 75, Tahun Ketujuh
Penasehat : Ketua Yayasan Metta Jaya ( Loe Lian Phang )
Penanggung Jawab : Ketua
Dayakasabha Metta Vihara Tegal ( Lie
Ing Beng )
Pimpinan Redaksi : Ibu Tjutisari
Redaksi
Pelaksana : 1. Ibu Pranoto 4. Liliyani
2. Suriya Dhammo 5.
Sumedha Amaravathi
3. Ade Kristanto 6. Lie Thiam Lan
Alamat Redaksi : Metta Vihara
Jl. Udang
No. 8 Tegal Telp. (0283) 323570
BCA No Rek : 0479073688 an. YUNINGSIH ASTUTI - TUSITA WIJAYA
DHAMMAPADA ATTHAKHATA
Bab
II - Syair 32
Seorang
bhikkhu yang bergembira dalam kewaspadaan dan melihat bahaya dalam kelengahan
tak akan terperosok lagi, ia sudah berada di ambang pintu nibbana.
BRIVI NOVEMBER 2013
Edisi KATHINA
Tegal, 24 November 2013
No
: 75, Tahun Ketujuh
Penasehat : Ketua Yayasan Metta Jaya ( Loe Lian Phang )
Penanggung Jawab : Ketua
Dayakasabha Metta Vihara Tegal ( Lie
Ing Beng )
Pimpinan Redaksi : Ibu Tjutisari
Redaksi
Pelaksana : 1. Ibu Pranoto 4. Liliyani
2. Suriya Dhammo 5.
Sumedha Amaravathi
3. Ade Kristanto 6. Lie Thiam Lan
Alamat Redaksi : Metta Vihara
Jl. Udang
No. 8 Tegal Telp. (0283) 323570
BCA No Rek : 0479073688 an. YUNINGSIH ASTUTI - TUSITA WIJAYA
DHAMMAPADA ATTHAKHATA
Bab
II - Syair 32
Seorang
bhikkhu yang bergembira dalam kewaspadaan dan melihat bahaya dalam kelengahan
tak akan terperosok lagi, ia sudah berada di ambang pintu nibbana.
Jumat, 15 November 2013
BRIVI OKTOBER 2013
Tegal, 24 Oktober 2013
No
: 74, Tahun Ketujuh
Penasehat : Ketua Yayasan Metta Jaya ( Loe Lian Phang )
Penanggung Jawab : Ketua
Dayakasabha Metta Vihara Tegal ( Lie
Ing Beng )
Pimpinan Redaksi : Ibu Tjutisari
Redaksi
Pelaksana : 1. Ibu Pranoto 4. Liliyani
2. Suriya Dhammo 5.
Sumedha Amaravathi
3. Ade Kristanto 6. Lie Thiam Lan
Alamat Redaksi : Metta Vihara
Jl. Udang
No. 8 Tegal Telp. (0283) 323570
BCA No Rek : 0479073688 an. YUNINGSIH ASTUTI - TUSITA WIJAYA
DHAMMAPADA ATTHAKHATA
Bab
II - Syair 31
Seorang bhikkhu yang bergembira
dalam kewaspadaan dan melihat bahaya dalam kelengahan akan maju terus, membakar
semua rintangan batin, bagaikan api membakar kayu baik yang besar maupun yang
kecil.
BAB II – Syair 31
Kisah
Seorang Bhikkhu
Seorang
bhikkhu, setelah memperoleh pelajaran meditasi dari Sang Buddha, pergi ke hutan
untuk bermeditasi. Meskipun dia berlatih dengan sungguh-sungguh dia hanya
memperoleh kemajuan yang sangat kecil. Akibatnya;, ia menjadi frustasi. Dengan
berpikir akan memperoleh petunjuk dari
Sang Buddha, dia meninggalkan hutan menuju Vihara Jetavana.
Dalam
perjalanannya, dia melewati nyala api yang sangat besar. Dia berlari menuju
puncak gunung dan mencari dari mana api tersebut datang. Melihat api yang membakar
itu, ia termenung. Pikirnya, seperti api yang membakar habis semuanya, begitu
juga pandangan terang akan membakar semua belenggu kehidupan, besar dan kecil.
Kamis, 03 Oktober 2013
KATHINA 2557/2013 METTA VIHARA TEGAL
“ … Gemar berdana dan memiliki moral yang baik, dapat menahan nafsu dan memiliki pengendalian diri, adalah timbunan ‘harta’ yang terbaik bagi seorang pria maupun wanita. ‘Harta’ tersebut dapat diperoleh dengan berbuat kebajikan kepada Cetiya atau Sangha, kepada orang lain atau tamu, kepada ibu dan ayah, atau kepada orang yang lebih tua. Inilah harta yang paling sempurna tidak mungkin hilang, tidak mungkin ditinggalkan, walaupun suatu saat akan meninggal, ia akan tetap membawanya … “
(Nidhikhanda Sutta- Kotbah tentang Penimbunan Harta Sejati)
BRIVI SEPTEMBER 2013
|
|
Tegal, 24 September 2013
No
: 73, Tahun Ketujuh
Penasehat : Ketua Yayasan Metta Jaya ( Loe Lian Phang )
Penanggung Jawab : Ketua
Dayakasabha Metta Vihara Tegal ( Lie
Ing Beng )
Pimpinan Redaksi : Ibu
Tjutisari
Redaksi
Pelaksana : 1. Ibu Pranoto 4. Liliyani
2. Suriya Dhammo 5.
Sumedha Amaravathi
3. Ade Kristanto 6. Lie Thiam Lan
Alamat Redaksi : Metta Vihara
Jl. Udang
No. 8 Tegal Telp. (0283) 323570
BCA No Rek : 0479073688 an. YUNINGSIH ASTUTI - TUSITA WIJAYA
DHAMMAPADA ATTHAKHATA
Bab
II - Syair 30
Dengan menyempurnakan
kewaspadaan Dewa Sakka dapat mencapai tingkat pemimpin di antara para dewa.
Sesungguhnya, kewaspadaan itu akan selalu dipuji dan kelengahan akan selalu
dicela.

BAB II – Syair
30
II. (7) Kisah Magha
Suatu waktu, seorang Pangeran
Licchavi, bernama Mahali, datang untuk mendengarkan khotbah Dhamma yang
disampaikan oleh Sang Buddha. Khotbah yang dibabarkan adalah Sakkapanha
Suttanta. Sang Buddha menceritakan tentang Sakka yang selalu bersemangat.
Mahali kemudian berpikir bahwa Sang Buddha pasti pernah berjumpa dengan Sakka
secara langsung. Untuk menyakinkan hal tersebut, dia bertanya kepada Sang
Buddha.
Sang Buddha menjawab,
"Mahali, Aku mengenal Sakka; Aku juga mengetahui apa yang menyebabkan dia
menjadi Sakka." Kemudian Beliau bercerita kepada Mahali bahwa Sakka, raja
para dewa, pada kehidupannya yang lampau adalah seorang pemuda yang bernama
Magha, tinggal di desa Macala.
Pemuda Magha dan tiga puluh dua
temannya pergi untuk membangun jalan dan tempat tinggal. Magha juga bertekad
untuk melakukan tujuh kewajiban.
Tujuh kewajiban tersebut adalah:
(1) dia akan merawat kedua orang tuanya;
(2) dia akan menghormati orang yang lebih tua;
(3) dia akan berkata sopan;
(4) dia akan menghindari membicarakan orang lain;
(5) dia tidak akan menjadi orang kikir, dia akan menjadi orang
yang murah hati;
(6) dia akan berkata jujur; dan
(7) dia akan menjaga dirinya untuk tidak mudah marah.
Karena kelakuannya yang baik dan tingkah lakunya yang benar pada
kehidupannya yang lampau Magha dilahirkan kembali sebagai Sakka, raja para
Dewa.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 30 berikut:
Dengan menyempurnakan
kewaspadaan Dewa Sakka dapat mencapai tingkat pemimpin di antara para dewa.
Sesungguhnya, kewaspadaan itu akan selalu dipuji dan kelengahan akan selalu
dicela.
Sumber : 1. Dhammpada Atthakhata. Penerbit : Vidyasena
2.
Kitab suci Dhammapada. Penerbit :
Bahusutta Society
--- oOo ---
SEKAPUR SIRIH
Kewaspadaan
selalu dipuji dan membawa manfaat yang sangat besar bagi diri sendiri dan orang
banyak. Sebaliknya kelengahan selalu dicela dan membawa akibat yang merugikan.
Lengkapnya dapat diikuti dalam Dhammapada Atthakhata Bab II Syair ke 30 “Kisah
Magha”.
Sang
Buddha menguraikan bagaimana menghadapi caci maki dalam cerita inspiratif yang
akan membawa manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Artikel
kali ini YM. Bhikkhu Uttamo Mahathera menulis “Hidup Selalu Berorganisasi”.
Dalam kehidupan masyarakat, organisasi mutlak sangat diperlukan, dengan
berorganisasi tentu perlu ditunjang komunikasi sehingga pembagian tugas dapat
berjalan dengan baik.
Ajahn
Brahm dalam buku Membuka Pintu Hati memasuki tema Takut Sakit, karena rasa
takut akan menimbulkan rasa sakit menjadi lebih menyakitkan, untuk mengatasinya
dengan cara enyahkan rasa takut.
Segenggam
Daun Bodhi, kumpulan tulisan Bhikkhu Dhammavudho Mahathera menguraikan
kebenaran mulia ke empat jalan. Ada jalan yang disebut jalan mulia berunsur
delapan yang menuntun pada penghentian Dukkha, ini adalah kebenaran mulia
keempat yang dinyatakan oleh Buddha.
Kitab
suci agama Buddha bagian dari Khudaka Nikaya, Sutta Pitaka Dana Arca Buddha apa
perlu ditulis nama? 2. Paritta apa yang dibaca pada saat memberi penghormatan
ke orang meninggal? 3. Apakah karena jiong tidak boleh melayat ke orang meninggal?
YM. Bhikkhu Uttamo memberi jawaban menurut pandangan agama Buddha.
Setitik
Cahaya di Balik Kabut, kenapa hidup ini selalu menderita? Pangeran Sidharta
telah menemukan jawabannya.
Redaksi
sudah berusaha sesuai kemampuan yang dimiliki, namun sadar tidak mungkin bisa
memberi kepuasan kepada pembaca semua, saran dan kritik yang membangun sangat
dibutuhkan untuk menyempurnakan buletin Brivi Metta Vihara. Dukungan moril
maupun materiil akan sangat bermanfaat bagi redaksi agar buletin kesayangan
kita ini dapat terbit dengan lebih baik dan menambah pengetahuan Dhamma.
Anumodana
dan terima kasih kami ucapkan atas perhatian dan dukungan anda.
Semoga
semua makhluk hidup berbahagia.
Metta
Cittena,
Redaksi
--- oOo ---
Senin, 23 September 2013
Selasa, 17 September 2013
BRIVI AGUSTUS 2013
|
|
Tegal, 24 Agustus 2013
No
: 72, Tahun Ketujuh
![]() |
Penasehat : Ketua Yayasan Metta Jaya ( Loe Lian Phang )
Penanggung Jawab : Ketua
Dayakasabha Metta Vihara Tegal ( Lie
Ing Beng )
Pimpinan Redaksi : Ibu Tjutisari
Redaksi
Pelaksana : 1. Ibu Pranoto 4. Liliyani
2. Suriya Dhammo 5.
Sumedha Amaravathi
3. Ade Kristanto 6. Lie Thiam Lan
Alamat Redaksi : Metta Vihara
Jl. Udang
No. 8 Tegal Telp. (0283) 323570
BCA No Rek : 0479073688 an. YUNINGSIH ASTUTI - TUSITA WIJAYA
DHAMMAPADA ATTHAKHATA
Bab
II - Syair 29
Waspada di antara yang lengah,
berjaga di antara yang tertidur; orang bijaksana akan maju terus, bagaikan
seekor kuda yang tangkas berlari meninggalkan kuda yang lemah di belakangnya.

BAB II – Syair 29
II. (6) Kisah Dua Bhikkhu yang
Bersahabat
Dua orang bhikkhu, setelah
memperoleh suatu objek meditasi dari Sang Buddha, pergi ke vihara yang letaknya
di dalam hutan.
Salah satu dari mereka lengah,
dia menghabiskan waktunya untuk menghangatkan tubuh dengan api dan berbicara
pada waktu malam pertama, dan ini menghabiskan waktunya.
Bhikkhu yang lain dengan rajin
mengerjakan tugasnya sebagai bhikkhu. Dia berjalan sambil bermeditasi selama
waktu malam pertama, beristirahat selama waktu-malam kedua dan bermeditasi lagi
pada waktu malam terakhir sepanjang malam. Kemudian, karena rajin dan selalu
waspada, bhikkhu kedua ini mencapai tingkat kesucian arahat dalam waktu
singkat.
Pada akhir masa vassa keduanya
pergi untuk menghormat Sang Buddha, dan Beliau menanyakan bagaimana mereka
menghabiskan waktu selama bervassa.
Bhikkhu pemalas dan lengah
menjawab bahwa bhikkhu yang lain hanya menghabiskan waktunya dengan berbaring
dan tidur. Sang Buddha kemudian bertanya, "Bagaimana dengan kamu
sendiri?" Jawabannya bahwa dia selalu duduk menghangatkan tubuh dengan
api pada waktu-malam pertama dan kemudian duduk tanpa tidur.
Tetapi Sang Buddha mengetahui
dengan baik bagaimana kedua bhikkhu tersebut telah menghabiskan waktu, maka
Beliau berkata kepada bhikkhu yang malas, "Meskipun kamu malas dan lengah
kamu mengatakan bahwa kamu rajin dan selalu waspada; tetapi kamu telah mengatakan
bahwa bhikkhu yang lain kelihatan malas dan lengah meskipun dia rajin dan
selalu waspada. Kamu seperti seekor kuda yang lemah dan lamban dibandingkan
dengan anak-Ku yang seperti kuda yang kuat dan tangkas. "
Kemudian Sang Buddha membabarkan
syair 29 berikut ini:
Waspada di antara yang lengah,
berjaga di antara yang tertidur; orang bijaksana akan maju terus, bagaikan
seekor kuda yang tangkas berlari meninggalkan kuda yang lemah di belakangnya.
Sumber : 1. Dhammpada Atthakhata. Penerbit : Vidyasena
2.
Kitab suci Dhammapada. Penerbit : Bahusutta Society
--- oOo ---
SEKAPUR SIRIH
Purnama sidhi
di bulan Asadha adalah merupakan hari raya Asadha 2557. Tahun ini jatuh tepat
pada 22 Juli 2013. “Asadha - Hari Memutar Roda Dhamma”. Hari Asadha merupakan
awal memasuki masa vasa yaitu : Bhikkhu-bhikkhu menetap di suatu tempat selama
3 bulan.
Buletin
Brivi edisi ke 72 menyajikan Dhammapada Atthakhata “Kisah Dua Bhikkhu yang
Bersahabat” mengisahkan dengan waspada tidak lengah berjaga diantara yang tidur
maka akan memperoleh kemajuan batin, untuk mencapai kesucian.
Cerita
inspiratif “Batu Penghalang Jalan” merupakan cerita yang dapat membawa kita
menjadi lebih bijaksana. Artikel “Mulutmu Adalah Harimaumu” bagus untuk menjadi
pedoman kita dalam kehidupan sehari-hari.
Rasa
Takut dan Rasa Sakit tulisan B. Ajahn Brahm dengan judul “Takut Berbicara di
Depan Umum”. Segenggam Daun Bodhi tulisan Bhikkhu Dhammavudho Mahathera
menginjak kebenaran mulia ketiga : “Penghentian”. Guru Agung Buddha Gautama
menguraikan bahwa “Ada sebuah kondisi dari berakhirnya Dukkha yang disebut
Nibbana” inilah kebenaran mulia ketiga “Penghentian”.
Kitab
suci Khuddaka Nikaya, Sutta Pitaka No. 9 Hemavata Sutta yaitu Percakapan Dua
Makhluk Raksasa mengenai sifat-sifat Sang Buddha.
100
Tanya Jawab dengan Bhikkhu Uttamo Mahathera menjelaskan mengenai cara mengatasi
kesulitan dan hubungan Klenteng dan Vihara.
Pandita
R. Surya Widya menulis dalam buku Setitik Cahaya di Balik Kabut 2 mengenai 4
keberuntungan.
Semoga
kehadiran buletin Brivi bisa menambah pengetahuan Dhamma dan menjalin
persaudaraan umat Metta Vihara Tegal.
Redaksi
telah berusaha dengan maksimal agar buletin Brivi dapat terus menampilkan
tulisan-tulisan yang dapat membawa manfaat bagi kita semua, namun kami sadar
keterbatasan kami ini, maka dukungan Bapak / Ibu / Saudara sangat kami butuhkan
untuk kelangsungan buletin kesayangan kita semua. Redaksi berharap masukan dan
saran-saran yang positif untuk meningkatkan kualitas dari buletin Brivi.
Semoga
Tiratana, Buddha Dhamma dan Sangha melindungi kita semua agar selalu dalam
keadaan sehat, damai, sejahtera dan bahagia sehingga kita dapat maju dalam
Buddha Dhamma.
Semoga
semua makhluk hidup berbahagia.
Metta
Cittena,
Redaksi
BRIVI JULI 2013
Tegal, 24 Juli 2013
No
: 71, Tahun Ketujuh
![]() |
Penasehat : Ketua Yayasan Metta Jaya ( Loe Lian Phang )
Penanggung Jawab : Ketua
Dayakasabha Metta Vihara Tegal ( Lie
Ing Beng )
Pimpinan Redaksi : Ibu Tjutisari
Redaksi
Pelaksana : 1. Ibu Pranoto 4. Liliyani
2. Suriya Dhammo 5.
Sumedha Amaravathi
3. Ade Kristanto 6. Lie Thiam Lan
Alamat Redaksi : Metta Vihara
Jl. Udang
No. 8 Tegal Telp. (0283) 323570
BCA No Rek : 0479073688 an. YUNINGSIH ASTUTI - TUSITA WIJAYA
DHAMMAPADA ATTHAKHATA
Bab
II - Syair 28
Bilamana
orang bijaksana telah mengatasi kelengahan dengan kewaspadaan, maka ia akan
bebas dari kesedihan, seakan memanjat menara kebijaksanaan dan memandang
orang-orang yang menderita di sekelilingnya, seperti seseorang yang berdiri di
atas gunung memandang mereka yang berada di bawah.
![]() |
BAB II – Syair
28
Kisah Mahakassapa
Thera
Suatu waktu ketika Mahakassapa Thera tinggal di gua Pipphali,
beliau menghabiskan waktunya untuk mengembangkan kesadaran batin aloka kasina
dan mencoba untuk memperoleh kemampuan batin mata dewa, mengetahui siapa yang
waspada dan siapa yang lengah, juga siapa yang mati dan akan dilahirkan.
Sang Buddha, dari vihara, mengetahui melalui kemampuan batin mata
dewa Beliau, apa yang dikerjakan oleh Mahakassapa Thera dan ingin mengingatkan
bahwa apa yang dia lakukan hanyalah menghabiskan waktu. Maka Beliau menampakkan
diri di depan thera tersebut dan berkata, "Anakku Kassapa, jumlah
kelahiran dan kematian makhluk hidup tak terhitung dan tak dapat dihitung. Hal
ini bukan tugasmu, hal ini adalah tugas para Buddha."
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 28 berikut ini :
Bilamana orang
bijaksana telah mengatasi kelengahan dengan kewaspadaan, maka ia akan bebas
dari kesedihan, seakan memanjat menara kebijaksanaan dan memandang orang-orang
yang menderita di sekelilingnya, seperti seseorang yang berdiri di atas gunung
memandang mereka yang berada di bawah.
--- oOo ---
SEKAPUR SIRIH
Purnama bulan ketujuh penanggalan lunar atau sering disebut
penanggalan imlek yaitu Cit Gwee Cap Go menurut tradisi adalah sembahyang
rebutan, umat Buddha sering menggunakan saat itu sebagai upacara Pattidana atau
pelimpahan jasa kepada leluhur yang telah mendahului kita.
Sejarah Pattidana dapat diikuti dalam tulisan :
1. Tirokhuda Sutta
2. Abhayadana karya dr. Dharma K. Widya
3. 100 Tanya Jawab B. Uttamo Mahathera.
Sajian buletin kesayangan kita Brivi Metta Vihara edisi Juli 2013
hadir dengan artikel Dhamma tulisan YM. Sri Panyavaro Mahathera dengan judul
Tantangan Iman Era Teknologi menarik untuk disimak.
Ajahn Brahm guru si cacing dan kotoran kesayangannya menulis : “Apakah
Rasa Takut Itu”. Segenggam Daun Bodhi tulisan Bhikkhu Dhammavudho Mahathera
memasuki kebenaran mulia kedua yaitu : PENYEBAB. Dapat anda ikuti Kitab Suci
Khuddaka Nikaya, Sutta Nipata dengan judul “Metta Sutta”.
Cerita inspiratif tentang Buddha di rumah sebuah uraian yang
sangat baik dalam kehidupan sehari-hari.
Setitik Cahaya di Balik Kabut karya Pandita Dr. R. Surya Widya,
Sp.KJ. Cara hidup yang benar dari tempat gelap pergi ke tempat terang, dari
tempat terang pergi ke tempat yang lebih terang. Sebuah uraian yang sangat
bagus untuk membawa batin kita berubah menjadi lebih baik dan menjadi lebih
bijaksana asal kita mau berusaha untuk mempraktekkan dalam kehidupan sehari-hari.
Semoga sajian Brivi Metta Vihara dapat membawa manfaat bagi kita
sebua.
Semoga dengan kekuatan TIRATANA, Buddha Dhamma dan Sangha, dengan
kekuatan karma baik kita, kehidupan kita semakin baik, sehat dan bahagia.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.
Metta Cittena,
Redaksi
Langganan:
Postingan (Atom)





