Jumat, 23 Agustus 2013

EDISI, 24 OKTOBER 2007

Tegal, 24 Oktober 2007
No : 03 Tahun Pertama

GUNCANGKANLAH

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun karena berbahaya; jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantu. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.
Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Sementara tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga mengguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur dan melarikan diri !

Kamis, 22 Agustus 2013

Brosur Acara Pattidana 2013

Vihara copyMETTA VIHARA
               JL. UDANG NO. 8 TELP. / Fax. 0283 – 323570 TEGAL 52111
 

PATTIDANA
Dengan melakukan perbuatan baik pada leluhur atau makhluk lain, adalah salah satu cara mempraktikkan Ajaran Kebenaran (Dhamma). Kebaikan yang kita lakukan akan berpengaruh pada diri sendiri dan leluhur kita yang terlahir di alam menderita.
Ada petuah jasa orang tua/para leluhur tidak dapat dibalas dengan apapun, kecuali dengan rasa bakti dan kasih kita sebagai anak terhadap mereka, merupakan kewajiban kita memberi penghormatan dan membuat jasa kebajikan dan melimpahkan/mengirim jasa kebajikan kepada para leluhur kita yang sudah tiada.
Ketika Raja Bimbisara mengundang Sang Buddha dan Siswanya untuk berdana dan mendengarkan Dhamma, malam harinya Raja Bimbisara terganggu dengan suara – suara bising di sekitar istananya. Raja bertanya kepada Sang Buddha, dijelaskan bahwa makhluk – makhluk di sekitar istana adalah leluhur Raja Bimbisara yang terlahir di alam menderita, menunggu pelimpahan jasa dari Raja Bimbisara agar mereka dapat terbebas dari alam menderita.
            Suatu kesempatan baik bagi kita bisa memberi kasih dan rasa bakti kepada leluhur kita, dengan berbuat kebajikan dan melimpahkan jasa kebajikan dalam Upacara Pattidana yang akan kami selenggarakan pada :

Kamis, 08 Agustus 2013

Tegal, 24 Oktober 2007
No : 03 Tahun Pertama

GUNCANGKANLAH

Suatu hari keledai milik seorang petani jatuh ke dalam sumur. Hewan itu menangis dengan memilukan selama berjam-jam, sementara si petani memikirkan apa yang harus dilakukannya. Akhirnya, ia memutuskan bahwa hewan itu sudah tua dan sumur juga perlu ditimbun karena berbahaya; jadi tidak berguna untuk menolong si keledai. Ia mengajak tetangga-tetangganya untuk datang membantu. Mereka membawa sekop dan mulai menyekop tanah ke dalam sumur.
Pada mulanya, ketika si keledai menyadari apa yang sedang terjadi, ia menangis penuh kengerian. Tetapi kemudian, semua orang takjub, karena si keledai menjadi diam. Setelah beberapa sekop tanah lagi dituangkan ke dalam sumur, si petani melihat ke dalam sumur dan tercengang karena apa yang dilihatnya. Walaupun punggungnya terus ditimpa oleh bersekop-sekop tanah dan kotoran, si keledai melakukan sesuatu yang menakjubkan. Ia mengguncang-guncangkan badannya agar tanah yang menimpa punggungnya turun ke bawah, lalu menaiki tanah itu. Sementara tetangga-tetangga si petani terus menuangkan tanah kotor ke atas punggung hewan itu, si keledai terus juga mengguncangkan badannya dan melangkah naik. Segera saja, semua orang terpesona ketika si keledai meloncati tepi sumur da