Jumat, 15 November 2013

Kegiatan rutin baru di Metta Vihara Tegal: Latihan Meditasi, setiap hari Rabu, Pukul 19.30
bagi yang berminat silahkan datang dan mengikuti.

BRIVI OKTOBER 2013

Tegal, 24 Oktober 2013                                                                                          
No : 74, Tahun Ketujuh

Penasehat                 : Ketua Yayasan Metta Jaya                          ( Loe Lian Phang )
Penanggung Jawab : Ketua Dayakasabha Metta Vihara Tegal   ( Lie Ing Beng )
Pimpinan Redaksi     : Ibu Tjutisari
Redaksi Pelaksana   : 1.   Ibu Pranoto               4.   Liliyani                                                              
                                      2.   Suriya Dhammo        5.   Sumedha Amaravathi
                                      3.   Ade Kristanto           6.   Lie Thiam Lan
Alamat Redaksi        : Metta Vihara
                                      Jl. Udang No. 8 Tegal Telp. (0283) 323570
BCA No Rek : 0479073688  an. YUNINGSIH ASTUTI - TUSITA WIJAYA


DHAMMAPADA ATTHAKHATA
Bab II - Syair 31
Seorang bhikkhu yang bergembira dalam kewaspadaan dan melihat bahaya dalam kelengahan akan maju terus, membakar semua rintangan batin, bagaikan api membakar kayu baik yang besar maupun yang kecil.


BAB II – Syair 31
 Kisah Seorang Bhikkhu

Seorang bhikkhu, setelah memperoleh pelajaran meditasi dari Sang Buddha, pergi ke hutan untuk bermeditasi. Meskipun dia berlatih dengan sungguh-sungguh dia hanya memperoleh kemajuan yang sangat kecil. Akibatnya;, ia menjadi frustasi. Dengan berpikir akan memperoleh petunjuk  dari Sang Buddha, dia meninggalkan hutan menuju Vihara Jetavana.
Dalam perjalanannya, dia melewati nyala api yang sangat besar. Dia berlari menuju puncak gunung dan mencari dari mana api tersebut datang. Melihat api yang membakar itu, ia termenung. Pikirnya, seperti api yang membakar habis semuanya, begitu juga pandangan terang akan membakar semua belenggu kehidupan, besar dan kecil.

Kamis, 03 Oktober 2013

KATHINA 2557/2013 METTA VIHARA TEGAL

“ … Gemar berdana dan memiliki moral yang baik, dapat menahan nafsu dan memiliki pengendalian diri, adalah timbunan ‘harta’ yang terbaik bagi seorang pria maupun wanita. ‘Harta’ tersebut dapat diperoleh dengan berbuat kebajikan kepada Cetiya atau Sangha, kepada orang lain atau tamu, kepada ibu dan ayah, atau kepada orang yang lebih tua. Inilah harta yang paling sempurna tidak mungkin hilang, tidak mungkin ditinggalkan, walaupun suatu saat akan meninggal, ia akan tetap membawanya … “
(Nidhikhanda Sutta- Kotbah tentang Penimbunan Harta Sejati)

BRIVI SEPTEMBER 2013

         
Tegal, 24 September 2013                                                                                   
No : 73, Tahun Ketujuh

Penasehat                 : Ketua Yayasan Metta Jaya                          ( Loe Lian Phang )
Penanggung Jawab   : Ketua Dayakasabha Metta Vihara Tegal      ( Lie Ing Beng )
Pimpinan Redaksi      : Ibu Tjutisari
Redaksi Pelaksana     : 1.   Ibu Pranoto              4.   Liliyani                                                           
                                    2.   Suriya Dhammo        5.   Sumedha Amaravathi
                                    3.   Ade Kristanto            6.   Lie Thiam Lan
Alamat Redaksi         : Metta Vihara
                                    Jl. Udang No. 8 Tegal Telp. (0283) 323570
BCA No Rek : 0479073688  an. YUNINGSIH ASTUTI - TUSITA WIJAYA


DHAMMAPADA ATTHAKHATA
Bab II - Syair 30
Dengan menyempurnakan kewaspadaan Dewa Sakka dapat mencapai tingkat pemimpin di antara para dewa. Sesungguhnya, kewaspadaan itu akan selalu dipuji dan kelengahan akan selalu dicela.

BAB II – Syair 30
II. (7) Kisah Magha

Suatu waktu, seorang Pangeran Licchavi, bernama Mahali, datang untuk mendengarkan khotbah Dhamma yang disampaikan oleh Sang Buddha. Khotbah yang dibabarkan adalah Sakkapanha Suttanta. Sang Buddha menceritakan tentang Sakka yang selalu bersemangat. Mahali kemudian berpikir bahwa Sang Buddha pasti pernah berjumpa dengan Sakka secara langsung. Untuk menyakinkan hal tersebut, dia bertanya kepada Sang Buddha.
Sang Buddha menjawab, "Mahali, Aku mengenal Sak­ka; Aku juga mengetahui apa yang menyebabkan dia menjadi Sakka." Kemudian Beliau bercerita kepada Mahali bahwa Sakka, raja para dewa, pada kehidupannya yang lampau adalah seorang pemuda yang bernama Magha, tinggal di desa Macala.
Pemuda Magha dan tiga puluh dua temannya pergi un­tuk membangun jalan dan tempat tinggal. Magha juga bertekad untuk melakukan tujuh kewajiban.        
Tujuh kewajiban tersebut adalah:
(1) dia akan merawat kedua orang tuanya;
(2) dia akan menghormati orang yang lebih tua;
(3) dia akan berkata sopan;
(4) dia akan menghindari membicarakan orang lain;
(5) dia tidak akan menjadi orang kikir, dia akan menjadi orang yang murah hati;
(6) dia akan berkata jujur; dan
(7) dia akan menjaga dirinya untuk tidak mudah marah.
Karena kelakuannya yang baik dan tingkah lakunya yang benar pada kehidupannya yang lampau Magha dilahirkan kembali sebagai Sakka, raja para Dewa.
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 30 berikut:
Dengan menyempurnakan kewaspadaan Dewa Sakka dapat mencapai tingkat pemimpin di antara para dewa. Sesungguhnya, kewaspadaan itu akan selalu dipuji dan kelengahan akan selalu dicela.
Sumber :   1.  Dhammpada Atthakhata. Penerbit : Vidyasena
            2.  Kitab suci Dhammapada. Penerbit : Bahusutta Society

--- oOo ---


SEKAPUR SIRIH

Kewaspadaan selalu dipuji dan membawa manfaat yang sangat besar bagi diri sendiri dan orang banyak. Sebaliknya kelengahan selalu dicela dan membawa akibat yang merugikan. Lengkapnya dapat diikuti dalam Dhammapada Atthakhata Bab II Syair ke 30 “Kisah Magha”.
Sang Buddha menguraikan bagaimana menghadapi caci maki dalam cerita inspiratif yang akan membawa manfaat dalam kehidupan sehari-hari.
Artikel kali ini YM. Bhikkhu Uttamo Mahathera menulis “Hidup Selalu Berorganisasi”. Dalam kehidupan masyarakat, organisasi mutlak sangat diperlukan, dengan berorganisasi tentu perlu ditunjang komunikasi sehingga pembagian tugas dapat berjalan dengan baik.
Ajahn Brahm dalam buku Membuka Pintu Hati memasuki tema Takut Sakit, karena rasa takut akan menimbulkan rasa sakit menjadi lebih menyakitkan, untuk mengatasinya dengan cara enyahkan rasa takut.
Segenggam Daun Bodhi, kumpulan tulisan Bhikkhu Dhammavudho Mahathera menguraikan kebenaran mulia ke empat jalan. Ada jalan yang disebut jalan mulia berunsur delapan yang menuntun pada penghentian Dukkha, ini adalah kebenaran mulia keempat yang dinyatakan oleh Buddha.
Kitab suci agama Buddha bagian dari Khudaka Nikaya, Sutta Pitaka Dana Arca Buddha apa perlu ditulis nama? 2. Paritta apa yang dibaca pada saat memberi penghormatan ke orang meninggal? 3. Apakah karena jiong tidak boleh melayat ke orang meninggal? YM. Bhikkhu Uttamo memberi jawaban menurut pandangan agama Buddha.
Setitik Cahaya di Balik Kabut, kenapa hidup ini selalu menderita? Pangeran Sidharta telah menemukan jawabannya.
Redaksi sudah berusaha sesuai kemampuan yang dimiliki, namun sadar tidak mungkin bisa memberi kepuasan kepada pembaca semua, saran dan kritik yang membangun sangat dibutuhkan untuk menyempurnakan buletin Brivi Metta Vihara. Dukungan moril maupun materiil akan sangat bermanfaat bagi redaksi agar buletin kesayangan kita ini dapat terbit dengan lebih baik dan menambah pengetahuan Dhamma.
Anumodana dan terima kasih kami ucapkan atas perhatian dan dukungan anda.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Metta Cittena,
Redaksi

--- oOo ---


 

Senin, 23 September 2013

Metta Vihara Tegal.  WANDANI PC Kota Tegal akan merayakan Ulang Tahun Ke-1 pada Selasa, 24 September 2013, di Metta Vihara.

Selasa, 17 September 2013


BRIVI AGUSTUS 2013


           

Tegal, 24 Agustus 2013                                                                                          
No : 72, Tahun Ketujuh


 
Penasehat                 : Ketua Yayasan Metta Jaya                          ( Loe Lian Phang )
Penanggung Jawab : Ketua Dayakasabha Metta Vihara Tegal   ( Lie Ing Beng )
Pimpinan Redaksi     : Ibu Tjutisari
Redaksi Pelaksana   : 1.   Ibu Pranoto               4.   Liliyani                                                              
                                      2.   Suriya Dhammo        5.   Sumedha Amaravathi
                                      3.   Ade Kristanto           6.   Lie Thiam Lan
Alamat Redaksi        : Metta Vihara
                                      Jl. Udang No. 8 Tegal Telp. (0283) 323570
BCA No Rek : 0479073688  an. YUNINGSIH ASTUTI - TUSITA WIJAYA


DHAMMAPADA ATTHAKHATA
Bab II - Syair 29
Waspada di antara yang lengah, berjaga di antara yang tertidur; orang bijaksana akan maju terus, bagaikan seekor kuda yang tangkas berlari meninggalkan kuda yang lemah di belakangnya.

BAB II – Syair 29
II. (6) Kisah Dua Bhikkhu yang Bersahabat

Dua orang bhikkhu, setelah memperoleh suatu objek meditasi dari Sang Buddha, pergi ke vihara yang letaknya di dalam hutan.
Salah satu dari mereka lengah, dia menghabiskan waktunya untuk menghangatkan tubuh dengan api dan berbicara pada waktu malam pertama, dan ini menghabiskan waktunya.
Bhikkhu yang lain dengan rajin mengerjakan tugasnya sebagai bhikkhu. Dia berjalan sambil bermeditasi selama waktu malam pertama, beristirahat selama waktu-malam kedua dan bermeditasi lagi pada waktu malam terakhir sepanjang malam. Kemudian, karena rajin dan selalu waspada, bhikkhu kedua ini mencapai tingkat kesucian arahat dalam waktu singkat.
Pada akhir masa vassa keduanya pergi untuk menghormat Sang Buddha, dan Beliau menanyakan bagaimana mere­ka menghabiskan waktu selama bervassa.
Bhikkhu pemalas dan lengah menjawab bahwa bhikkhu yang lain hanya menghabiskan waktunya dengan berbaring dan tidur. Sang Buddha kemudian bertanya, "Bagai­mana dengan kamu sendiri?" Jawabannya bahwa dia se­lalu duduk menghangatkan tubuh dengan api pada waktu-malam pertama dan kemudian duduk tanpa tidur.
Tetapi Sang Buddha mengetahui dengan baik bagaimana kedua bhikkhu tersebut telah menghabiskan waktu, maka Beliau berkata kepada bhikkhu yang malas, "Meskipun kamu malas dan lengah kamu mengatakan bahwa kamu rajin dan selalu waspada; tetapi kamu telah mengatakan bahwa bhikkhu yang lain kelihatan malas dan lengah meskipun dia rajin dan selalu waspada. Kamu seperti seekor kuda yang lemah dan lamban dibandingkan dengan anak-Ku yang se­perti kuda yang kuat dan tangkas. "
Kemudian Sang Buddha membabarkan syair 29 berikut ini:
Waspada di antara yang lengah, berjaga di antara yang tertidur; orang bijaksana akan maju terus, bagaikan seekor kuda yang tangkas berlari meninggalkan kuda yang lemah di belakangnya.
Sumber :     1.  Dhammpada Atthakhata. Penerbit : Vidyasena
              2. Kitab suci Dhammapada. Penerbit : Bahusutta Society

--- oOo ---
SEKAPUR SIRIH

Purnama sidhi di bulan Asadha adalah merupakan hari raya Asadha 2557. Tahun ini jatuh tepat pada 22 Juli 2013. “Asadha - Hari Memutar Roda Dhamma”. Hari Asadha merupakan awal memasuki masa vasa yaitu : Bhikkhu-bhikkhu menetap di suatu tempat selama 3 bulan.
Buletin Brivi edisi ke 72 menyajikan Dhammapada Atthakhata “Kisah Dua Bhikkhu yang Bersahabat” mengisahkan dengan waspada tidak lengah berjaga diantara yang tidur maka akan memperoleh kemajuan batin, untuk mencapai kesucian.
Cerita inspiratif “Batu Penghalang Jalan” merupakan cerita yang dapat membawa kita menjadi lebih bijaksana. Artikel “Mulutmu Adalah Harimaumu” bagus untuk menjadi pedoman kita dalam kehidupan sehari-hari.
Rasa Takut dan Rasa Sakit tulisan B. Ajahn Brahm dengan judul “Takut Berbicara di Depan Umum”. Segenggam Daun Bodhi tulisan Bhikkhu Dhammavudho Mahathera menginjak kebenaran mulia ketiga : “Penghentian”. Guru Agung Buddha Gautama menguraikan bahwa “Ada sebuah kondisi dari berakhirnya Dukkha yang disebut Nibbana” inilah kebenaran mulia ketiga “Penghentian”.
Kitab suci Khuddaka Nikaya, Sutta Pitaka No. 9 Hemavata Sutta yaitu Percakapan Dua Makhluk Raksasa mengenai sifat-sifat Sang Buddha.
100 Tanya Jawab dengan Bhikkhu Uttamo Mahathera menjelaskan mengenai cara mengatasi kesulitan dan hubungan Klenteng dan Vihara.
Pandita R. Surya Widya menulis dalam buku Setitik Cahaya di Balik Kabut 2 mengenai 4 keberuntungan.
Semoga kehadiran buletin Brivi bisa menambah pengetahuan Dhamma dan menjalin persaudaraan umat Metta Vihara Tegal.
Redaksi telah berusaha dengan maksimal agar buletin Brivi dapat terus menampilkan tulisan-tulisan yang dapat membawa manfaat bagi kita semua, namun kami sadar keterbatasan kami ini, maka dukungan Bapak / Ibu / Saudara sangat kami butuhkan untuk kelangsungan buletin kesayangan kita semua. Redaksi berharap masukan dan saran-saran yang positif untuk meningkatkan kualitas dari buletin Brivi.
Semoga Tiratana, Buddha Dhamma dan Sangha melindungi kita semua agar selalu dalam keadaan sehat, damai, sejahtera dan bahagia sehingga kita dapat maju dalam Buddha Dhamma.
Semoga semua makhluk hidup berbahagia.

Metta Cittena,
Redaksi